Home ยป Business Process Management (BPM): 5 Proses BPM dan Contoh

Business Process Management (BPM): 5 Proses BPM dan Contoh

BPM atau Manajemen proses bisnis ( Business Process Management ) adalah metode yang secara konstan menganalisis, meningkatkan, dan mengotomatisasi proses. Namun, Business Process Management bukan sesuatu yang dilakukan sekali saja tetapi harus terus ditingkatkan. BPM termasuk dalam metode pengelolaan operasional perusahaan.

Dengan menerapkannya, Perusahaan harus mengetahui gambaran umum tentang siklus proses BPM atau Manajemen proses bisnis ( Business Process Management ). Yaitu, langkah-langkah tepat yang perlu diambil untuk bekerja pada setiap proses yang ada.

5 Langkah Business Process Management (BPM) Atau Manajemen Proses Bisnis

Berikut 5 langkah operasional dalam BPM:

  1. Desain (Design) – Setiap perusahaan memiliki proses. Namun, tidak semuanya benar-benar diuraikan. Bagian “desain” berarti mengidentifikasi suatu proses dan mencari tahu dimana ia dimulai, apa saja yang terdiri dari itu, dan dimana ia berakhir.
  2. Pemodelan (Modeling) – Setelah Perusahaan mengidentifikasi suatu proses, perusahaan harus menggambarkannya dalam sebuah bagan model. Tanpa adanya penggambaran, proses analisis akan sangat sulit. Biasanya, pemodelan menggunakan diagram alur kerja jika prosesnya sederhana, atau salah satu dari banyak teknik pemetaan proses bisnis yang ada.
  3. Analisis (Analyst) – Sekarang perusahaan sudah memiliki diagram alur kerja, maka dapat mulai menganalisisnya. Jawablah pertanyaan berikut untuk menganalisa operasional alur kerja. Apakah ada langkah-langkah dalam proses yang tidak benar-benar menambah nilai? Apakah ada cara untuk menghapusnya?. Dalam analisa ini kita akan mengeliminasi setiap proses yang tidak menghasilkan value atau nilai pada perusahaan.
  4. Pemantauan (Monitoring)- Perusahaan tidak dapat meningkatkan proses tanpa mengetahui seberapa baik kinerja. Selain itu, harus dapat mengetahui apakah perubahan yang dibuat memiliki dampak positif atau tidak. Sehingga memerlukan data pembanding berupa standar kinerja dan data hasil lapangan untuk mengetahui apakah perbaikan yang dibuat memiliki dampak baik atau buruk. Pemantuan ini dilakukan dalam periode waktu tertentu.
  5. Meningkatkan ( Improving ) – Setelah kita melakukan proses pemantauan, kita akan mengetahui apakah perubahan yang telah kita buat memiliki dampak positif atau tidak. Jika hasilnya positif, perusahaan dapat menerapkan perubahan tersebut, jika tidak perusahaan akan menggunakan metode lama sambil mencari metode baru yang lebih berhasil.

Contoh Manajemen Proses Bisnis BPM

Dalam proses produksi pembuatan susu bubuk, fauzi sebagai manajer produksi ingin meningkatkan kualitas, efektifitas dan efisiensi proses produksi susu bubuk tersebut. Oleh karena itu ia mengusulkan untuk mengubah lay out ruang produksi seperti gambar dibawah ini:

contoh Business Process Management (BPM) Atau Manajemen Proses Bisnis
Alur proses exist vs proses usulan

Data standar dengan proses semula (exist) memiliki masalah dari waktu proses yang lambat, sering terjadinya miss handling ketika proses pemindahan produk jadi sehingga rusak, dan dikarenakan proses pemindahan manual perlu adanya penambahan SDM.

Setelah dilakukan trial (percobaan) dengan proses usulan maka didapatkan hasil sebagai berikut:

  1. Waktu proses lebih cepat 2x
  2. Kecelakaan kerja tidak terjadi
  3. Waktu biaya dalam jangka panjang akan lebih menurun

Maka dengan hasil tersebut, fauzi menerapkan proses perubahan tersebut. Dimana ia pun melakukan pemantauan proses berkelanjutan untuk kedepannya. Selain metode ini ada juga metode Business Process Reengineering (BPR).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *